Kajian HIMAKRIM 2017 – Isu Diskriminasi pada Masyarakat Saat Ini

Race-poster4

 

Dewasa ini, isu SARA masih menjadi perbincangan yang selalu diangkat di tengah-tengah masyarakat. Konflik yang dilatar belakangi kebencian atas dasar ras hampir selalu menjadi alat yang digunakan untuk menjatuhkan kelompok-kelompok tertentu. Bahkan terdapat peraturan-peraturan yang sifatnya diskriminatif terhadap kelompok minoritas[1]. Tentunya hal ini menjadi perhatian serius bagi kita di mana hal itu dapat mengganggu stabilitas sosial.

Perilaku-perilaku diskriminatif sama saja dengan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Manusia memiliki hak yang sama contohnya adalah hak hidup, hak bebas dari diskriminasi, bias, prasangka, hak bebas dari rasa takut, hak bebas dari kemiskinan, hak dan perlindungan terhadap keberagaman budaya, dan lain- lain[2].

Menurut kamus Bahasa Indonesia pengertian dari kata diskriminasi adalah pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara (berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan sebagainya). Sedangkan dalam pasal  1 ayat 3 Undang-undang Tentang Hak Asasi Manusia No 39 tahun 1999 mendefinisikan bahwa diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung ataupun tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan atau penghapusan pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individu maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya.

Pada 1980-an, istilah diskriminasi masih memiliki makna yang ambigu. Hal itu memunculkan penggambaran tentang praduga rasial dan/atau seksual. Tindakan-tindakan diskriminasi yang dilakukan oleh individu terkadang muncul ke dalam bentuk preferensi mayoritas yang keberadaannya mengekslusikan beberapa minoritas. Terkadang, ekspresi preferensi dari kelompok minoritas mengekslusikan mayoritas. Beberapa kelompok masyakarat yang terpencil misalnya secara terang-terangan mengekspresikan individualitasnya dengan menolak keberadaan mayoritas. Hal ini terutama berlaku pada asosiasi dan kelompok agamis yang memiliki hirarki internal yang ketat sehingga mereka mendiskriminasikan anggota baru dengan anggota yang sudah lama. Terkadang mayoritas dapat menyebabkan hukum disahkan guna melembagakan diskriminasi. Seperti tindakan-tindakan yang tidak perlu dibatasi, bahkan secara sengaja ditujukan kategori etnis, ras, dan seksual tertentu.

Diskriminasi rasial terjadi ketika seseorang diperlakukan tidak sepantasnya atau tidak diberikan kesempatan yang sama karena ras mereka, tempat mereka lahir, etnis mereka, dan warna kulit. Racial Discrimination Act 1975 menjelaskan bahwa diskriminasi ras disebabkan karena adanya perbedaan secara ras, warna, warga negara, atau status imigran. Racial Discrimination Act menjelaskan mengenai diskriminasi ras dalam pekerjaan seperti memaksakan pekerja untuk berbicara Bahasa Inggris setiap waktu, tidak memperkerjakan seseorang yang berasal dari ras minoritas dengan alasan tidak reliabel, dan memperlakukan secara tidak adil dalam pekerjaan karena ras mereka seperti selalu berkomentar mengenai ras para pekerja.

Diskriminasi ras dibagi menjadi dua yaitu direct discrimination dan indirect discrimination. Direct discrimination diartikan sebagai seseorang memperlakukan orang lain dengan tidak adil karena ras orang tersebut. Diskriminasi ini kan menimbulkan race harassment. Indirect discrimination menjelaskan mengenai persyaratan atau aturan yang terlihat sama untuk semua orang tetapi pada faktanya merugikan mereka yang merupakan minoritas secara ras. Dalam diskriminasi ras terdapat konsep racial vilification. Konsep ini diartikan sebagai suatu tindakan menghasut orang lain agar membenci orang- orang minoritas secara ras seperti melakukan kekerasan, meninggalkan tulisan kasar di tempat umum, dan menggunakan aksesoris yang menjelek- jelekkan kaum minoritas secara ras.

Contoh bentuk-bentuk diskriminasi saat ini yang terlihat nyata adalah penolakan terhadap etnis tertentu saat berlangsungnya pilkada. Hal tersebut tentunya dapat dilihat sebagai salah satu upaya untuk menjatuhkan lawan politiknya dengan cara-cara yang yang menyalahi moral. Belum lagi di beberapa kota di Indonesia juga terjadi diskriminasi agama yang akhirnya timbul konflik antar kelompok seperti pembakaran tempat ibadah. Segala bentuk diskriminasi harus segera dihapuskan mengingat masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang multikultural di mana gesekan antar kelompok sangat mungkin terjadi akibat konflik antar ras, suku, maupun agama.

Pembedaan identifikasi terhadap kelompok lain terbentuk karena adanya prasangka. Dari prasangka tersebut akhirnya memberikan batas terhadap “aku” dan “kamu”, “kami” dan “kalian”. Prasangka ini muncul ketika adanya ketidakpedulian terhadap kelompok lain. Ada juga yang merasa berbeda sehingga berujung pada ketakutan. Hal ini semakin lama mencapai tingkat yang lebih serius yang memberikan label atau stereotype (stigma). Label tersebut diasosiasikan dengan sesuatu yang negatif yang akhirnya menganggap perbedaan yang ada di antara kelompok tersebut merupakan hal yang tidak sesuai.

Label negatif tersebut akan sulit hilang meskipun terdapat nilai positif yang dimiliki kelompok lain karena sudah tertanam dalam diri mereka. Label negatif tersebut dapat dipelajari melalui pengaruh sosial, seperti keluarga, sekolah, masyarakat sekitar, dan lain-lain. Diskriminasi akhirnya timbul ketika prasangka terhadap label negatif menjadi sebuah aksi nyata.

Mengingatkan kembali, Indonesia merupakan negara dengan warganya yang multikultural. Dalam prosesnya, seharusnya setiap warga negara perlu ditumbuhkan rasa persamaan akan tujuan, bukan perbedaan kepentingan masing-masing kelompok. Sedikit perbedaan yang berhubungan dengan isu SARA akan menimbulkan ketegangan dalam masyarakat dan tentunya akan menghambat proses-proses berjalannya negara untuk mencapai tujuannya. Maka dari itu, kita harus menghormati keberadaan kelompok masyarakat lain meskipun terdapat perbedaan ras dan agama. Dan tentunya, kita juga harus menghilangkan prasangka-prasangka negatif karena hal tersebut dapat mengarahkan kita ke dalam bentuk diskriminasi di mana hal tersebut merupakan pelanggaran hak asasi manusia.


Daftar Referensi

[1] Salah satu berita dapat diakses: Duwi, Setiya Ariyanti.2015. 328 Perda Diskriminatif Terhadap Perempuan dan Minoritas diakses melalui http://kabar24.bisnis.com/read/20150430/15/428377/328-perda-diskriminatif-terhadap-perempuan-dan-minoritas.

[2] Todd, Landman. 2006. Studying Human Rights. London.: Routledge Publisher. Page 8-9

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s